Ajeng
Damara Erfatia (Universitas Negeri Jakarta)
erufathia.ad@gmail.com
Athaya
Maharani (Universitas Negeri Jakarta)
Athaya.maharani@yahoo.co.id
Muhammad
Julian (Universitas Negeri Jakarta)
m.julian04@yahoo.co.id
Tiana
Fitri (Universitas Negeri Jakarta)
tianafitri99@gmail.com
Andy
Hadiyanto (Universitas Negeri Jakarta)
andi_hadiyanto@unj.ac.id
Abstract
Al-Qur'an should be used by Moslems as a paradigm in building lives that is in harmony
with the guidelines of Islam in this modern era. Lots of Moslems are
dragged into the Westernized consumptive lives, and the religion identity comes
later only as a lifestyle. Quranic
paradigm in the expression of all forms must remain a work of Muslims, so they can not lose their identity in facing the challenges of modernity. Modern life is essentially an implementation of the
progress of Science and Technology, and
that should be guided and spread by the Qur'an so that a Qurani Society can happen.
Keyword s: Paradigm, Modern life, Qurani
Abstrak
Al-Quran
dijadikan paradigma
bagi umat Muslim untuk membangun kehidupan dengan tuntunan-tuntunan Islam di era modern ini. Banyak umat muslim kini terseret ke dalam
kehidupan konsumtif ala Barat, serta menjadikan identitas keislamannya sebagai
gaya hidup belaka. Paradigma Qurani menyoroti segala
persoalan yang harus menjadi komitmen umat Islam agar tidak kehilangan jati dirinya
dalam menghadapi tantangan modernitas ini. Kehidupan modern pada hakikatnya merupakan
implementasi kemajuan IPTEK, dan
harus dipandu dan diarahkan oleh Al-Quran, sehingga dapat terjadinya kehidupan berbasis
Al-Quran. Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang
strategi membangun paradigma Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari.
Kata
kunci : Paradigma, Kehidupan modern, Qurani
Pendahuluan
Sains dan teknologi yang telah
berkembang dengan sangat pesatnya di dunia Barat saat ini telah menimbulkan
berbagai perubahan dan pergeseran yang luar biasa bagi umat manusia dan alam
semesta. Bagaimana nenek moyang kita memandang alam semesta. Mitos-mitos
dipercaya dan dijadikan tumpuan pengelanaan. Kemajuan ilmu pengetahuan lantas
hadir dan membuktikan apa yang mitos dan apa yang tidak (Sagan, 1980).
Kemajuan yang dicapai dengan keberhasilan pengembangan IPTEK tentu akan membawa perubahan yang sangat dahsyat. Revolusi kebudayaan terjadi karena IPTEK telah mengantarkan
manusia kepada kemajuan yang luar biasa. Kemajuan melahirkan
kehidupan modern dan kemodernan menjadi ciri khas masyarakat maju
dewasa ini. Bagi umat Islam kemodernan tetap harus dikembangkan di atas
paradigma Al-Quran. Kita maju bersama Al-Quran, tidak ada
kemajuan tanpa Al- Quran. Al-Quran bukan hanya sebagai sumber inspirasi,
tetapi ia adalah landasan, pedoman paradigma dan guide dalam
mengarahkan kemodernan agar dapat menyejahterakan manusia dunia
dan akhirat.
Ilmu pengetahuan dan teknologi
mengubah cara pandang manusia hampir di segala bidang. Tidak hanya di bidang politik,
ekonomi, sosial dan budaya, tetapi juga telah merambah bidang filsafat dan
agama, sehingga mengakibatkan globalisasi yang tidak lagi memperhatikan
sentrisme tertentu (Azmeh, 1993). Perubahan yang menciptakan kemajuan,
kemakmuran, dan pemerataan ini disebut modernisasi.
Modernisasi, secara lebih rinci,
dijabarkan dengan tolak ukur-tolak ukur sebagai berikut: 1) Tingkat produksi
dan pendapatan lebih tinggi. 2) Kemajuan dalam pemerintahan sendiri yang
demokratis, mantap, dan sekaligus tanggap terhadap kebutuhan-kebutuhan dan
kehendak-kehendak rakyat. 3) Pertumbuhan hubungan sosial yang demokratis,
termasuk kebebasan yang luas, kesempatan-kesempatan untuk pengembangan diri,
dan penghormatan kepada kepribadian individu. 4) Tidak mudah terkena komunisme
dan totalitarianisme lainnya. (Madjid, 2008)
Modernisasi,
dengan segala kemajuannya, ternyata menimbulkan berbagai dampak buruk, terutama
bagi masyarakat Muslim yang belum betul-betul siap dengan segala perangkatnya
(M. Amin Abdullah, 1996). Termasuk di Indonesia, di mana sebagai negara
berkembang, modernisasi kerap dikaitkan dengan westernisasi. Indonesia masih
melihat negara-negara Barat sebagai acuan kehidupan modern, bukan negara-negara
Timur Tengah, yang umumnya agama Islam dijadikan tumpuan dalam segala aspek
kehidupan. Sehingga terjadi
kecenderungan umat Islam untuk mudah tergiur dengan paradigma-paradigma modern
yang diluncurkan oleh bangsa Barat.
Salah satunya tercermin lewat budaya
layar di Indonesia. Dalam buku Identitas
dan Kenikmatan (2014), Ariel Heryanto meneliti gelagat masyarakat Indonesia
terhadap budaya layar. Masyarakat Muslim Indonesia pernah dibuat heboh sewaktu
film Ayat-ayat Cinta hadir di
bioskop, tahun 2008. Lelaki berkemeja dan bercelana panjang bernama Fahri
menempuh studi keislaman di Mesir. Ia tak lagi menunjukkan lelaki islam bergaya
fundamentalis yang berjenggot, bersorban, dan bersarung. Tapi Fahri tetap
hadir sebagai lelaki taat agama, yang tak menolak arus modernitas. Film menuai
berbagai macam kritik dan kecaman, walau film-film bertemakan Islam mulai terus
beredar hingga kini.
Pemikiran
sempit bahwa agama menolak modernitas ini kemungkinan diakibatkan oleh
ketiadaan cara pandang umat Muslim lewat pembacaan serta pemaknaan ayat-ayat
suci Al-Quran. Karenanya,
paradigma Qurani ini merupakan paradigma alternatif bagi umat Muslim yang saat
ini mengalami keterbelakangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Paradigma Qurani dalam berangkat dari
persepsi bahwa Al-Quran merupakan sumber dari segala sumber kegiatan umat Islam
dan manusia pada umumnya, termasuk dalam dunia pendidikan.
Karena itu, sudah seharusnya jika semua kegiatan islami didasarkan atas
Al-Quran dan hadis, serta ijtihad para ilmuwan Muslim.
Pengertian
Paradigma Al-Quran
Secara etimologis kata paradigma dari bahasa Yunani yang asal
katanya adalah para dan digma. Para mengandung arti di samping, di sebelah, dan keadaan
lingkungan. Digma berarti sudut pandang, teladan, arketif
dan ideal”. Dapat dikatakan bahwa paradigma adalah cara
pandang, cara berpikir, cara berpikir tentang suatu realitas. Adapun secara
terminologis paradigma adalah cara berpikir berdasarkan pandang dan yang
menyeluruh dan konseptual terhadap suatu realitas atau suatu permasalahan
dengan menggunakan teori-teori ilmiah yang sudah baku, eksperimen, dan metode
keilmuan yang bisa dipercaya. Dengan demikian, paradigma Qurani adalah cara
Pandang dan cara berpikir tentang suatu realitas atau suatu permasalahan
berdasarkan Al-Quran. (Nurwardani,
2016)
Al-Quran diyakini mengandung suatu gagasan yang
sempurna mengenai kehidupan. Ayat-ayat Al-Quran mencakup segalanya yang berhubungan
dengan kehidupan manusia, sehingga sudah tentu Al-Quran dapat dijadikan
landasan berpikir manusia. Walau gambaran-gambaran Al-Quran tentang surga dan
neraka, serta premis-premis normatif kerap dianggap oleh umat non-Islam sebagai
sesuatu yang bersifat mengada-ada, tapi justru dari sana Al-Quran memberikan
kerangka bagi pertumbuhan ilmu pengetahuan empiris dan rasional yang orisinil
(sesuai kebutuhan pragmatis masyarakat Islam). Bahkan sangat mungkin Al-Quran
dijadikan cara berpikir. (Kuntowijoyo, 2008)
Pentingnya Paradigma
Qurani bagi Kehidupan Modern
Dewasa ini, modernisasi kian marak terutama
setelah adanya globalisasi. Suatu masalah yang terjadi di suatu negara akan
dengan mudahnya menjadi masalah seluruh warga dunia. Tak ada lagi batasan wilayah. Seiring itu, batasan-batasan lain pun
mulai melebur. Ras, bahasa, kepentingan politik melebur dalam interaksi dan
menjadi saru. Begitu pula agama. Kini seakan agama dianggap menjadi bagian dari
modernitas, atau mengekang modernitas.
Seperti yang dikisahkan
Ariel dalam bukunya Identitas dan
Kenikmatan, masyarakat menengah adalah sasaran utama modernisasi akibat
selera dan daya beli yang sama. Golongan ini digiurkan oleh gaya hidup yang
modern, dan jauh dari gambaran-gambaran kehidupan Islam pada umumnya.
Ajaran-ajaran Islam yang sekiranya dapat menyesuaikan dengan arus modernitas
dianut, sedang yang dianggap kolot ditinggalkan.
Film Ayat-ayat Cinta yang mengusung konsep
lelaki Muslim taat agama tapi berbudaya modern menjadi tokoh figur baru. Di
saat yang bersamaan, kecantikan wanita berhijab juga dijadikan bagian dari gaya
hidup. Wanita-wanita membeli berbagai macam jilbab dengan motif beragam untuk
mempercantik diri dan enak dipandang, tidak kalah dengan tokoh istri Fahri,
Aisyah. Begitu juga dengan poligami sebagai gaya hidup modern. Islam hanya
disematkan sebagai identitas agama, bukan lagi pemujaan terhadap Tuhan.
Al-Quran tak lagi dipandang sebagai cara berpikir, melainkan hanya sebatas
pembenaran perilaku-perilaku bawaan dari arus modernitas ala Barat.
Yusuf Al-Qardhawi
mengatakan, paling tidak ada tujuh alasan Al-Quran diturunkan ke bumi.
Pertama, meluruskan akidah manusia. Hal ini meliputi penegakkan pokok-pokok tauhid, mensahihkan akidah tentang kenabian dan kerasulan, serta meneguhkan keimanan terhadap akhirat dan
keyakinan akan adanya balasan yang akan diterima di akhirat.
Kedua, meneguhkan kemuliaan manusia dan hak-hak asasi manusia.
Manusia adalah makhluk mulia. Dalam Q.S. Al-Isra(17: 30), Allah berfirman, Dan Kami telah
memuliakan keturunan Adam dan Kami bawa mereka (untuk menguasai) daratan dan
lautan, dan Kami rezekikan kepada mereka yang baik-baik dan Kami lebihkan
mereka atas kebanyakan sebagian yang telah Kami ciptakan.” Meneguhkan kemuliaan manusia
juga berarti menetapkan hak-hak manusia dan meneguhkan hak-hak dhuafa.
Alasan-alasan lainnya
yaitu untuk mengarahkan manusia untuk beribadah
secara baik dan benar kepada Allah, mengajak manusia untuk
menyucikan rohani, membangun rumah tangga yang sakinah dan menempatkan posisi
terhormat bagi perempuan, membangun umat menjadi saksi atas kemanusiaan dan, mengajak manusia agar saling menolong.
Menggali Sumber
Historis, Filosofis, Psikologis, Sosiologis, dan Pedagogis tentang Paradigma
Qurani untuk Kehidupan Modern
Dalam
sejarah peradaban Islam ada suatu masa yang disebut masa keemasan Islam (750
M1258 M). Disebut masa keemasan Islam karena umat Islam berada dalam puncak
kemajuan dalam berbagai aspek kehidupannya: ideologi, politik, sosial budaya,
ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, pertahanan dan keamanan. Unifikasi
Al-Quran mendorong dinasti Umayyah memperluas kekuasaan mereka antara tahun
661-750 M. Dari ibukota Damaskus, para kalifah menyebarkan ajaran Al-Quran dan
mendirikan banyak perpustakaan. (Baez, 2014)
Kalifah
Abbasiyah Al-Mamum (786-833 M), putra Harun Ar-Rasyid, adalah salah satu patron
terbesar di bidang seni dan sastra. Ditulisnya, Menurut beberapa kronik, dia
pernah bermimpi ada sosok sepuh dengan janggut rapi mendatanginya dari ambang
pintu dan menjelaskan nilai-nilai filsafat. Al-Mamun kelak menyadari orang
bijak itu adalah Aristoteles. Penerjemahan filsafat pun terjadi dan membuktikan
bahwa Islam tidak menjauhkan diri dari filsafat. Tokoh-tokoh filsafat seperti
Ibnu Sina pun hadir di masa kejayaan Islam.
Selain
bidang sastra dan filsafat, Islam juga berjaya di bidang kedokteran. Rumah
sakit pertama di dunia didirikan di Gundeshapur, di Persia tenggara, dengan
tokoh terpentingnya yaitu Harith bin Kalada. Di bidang matematika, trigonometri ditemukan oleh Nasir Al-Din Al Tusi,
seorang ahli matematika. Pada masa itu juga diterjemahkan karya-karya dalam
bidang astronomi, seperti Sidhanta,
sebuah risalah India yang diterjemahkan oleh Muhammad Ibn Ibrahim Al-Fazari
(806 M).
Pada abad berikutnya
sekitar pertengahan abad ke-10 muncul dua orang penerjemah yang sangat penting
dan produktif yaitu Yahya Ibn Adi (974) dan Abu Ali
Isa Ibnu Ishaq Ibn Zera (1008 M). Yahya banyak
memperbaiki terjemahan dan menulis komentar mengenai karya-karya Aristoteles
seperti Categories, Sophist, Poetics, Metaphiysics,
dan karya Plato seperti Timaesus dan Laws. Yahya juga dikenal sebagai ahli
logika dan menerjemahkan The Prolegomena
of Ammocius dan sebuah kata pengantar untuk Isagoge-nya Pophyrius (Bakhtiar, 2004).
Sikap
penguasa yang mendukung kemajuan Iptek selain diwujudkan dengan membangun
pusat-pusat pendidikan tinggi dan riset semisal Bait al-Hikmah di Bagdad, juga
para khalifah selalu mengapresiasi setiap ilmuwan yang dapat menuliskan karya
ilmiahnya, baik terjemahan ataupun karangan sendiri.
Semarak keilmuan tumbuh di tengah masyarakat. Ini semua
tak jauh karena pemikiran yang berdasarkan Al-Quran. Pada zaman itu,
sahabat-sahabat Rasulullah menjadikannya sebagai sosok panutan, figur, dan
pemimpin. Dan para pengikut umat Islam mengikuti apa yang dilakukan oleh
Rasulullah. Aisyah r.a. pun pernah mengatakan, Akhlak Rasulullah adalah
Al-Quran.
Karena
kemajuan-kemajuan itu, maka dunia Islam menjadi pusat peradaban, dan dunia
Islam menjadi super-power dalam
ekonomi dan politik. Ekspansi dakwah Islam semakin meluas dan diterima oleh
belahan seluruh dunia ketika Islam datang. Kekuasaan politik semakin luas yang
implikasinya kemakmuran ekonomi juga semakin terbuka tambah subur dan tentu
lebih merata.
Membangun Paradigma
Qurani pada Kehidupan Modern
Pemikiran dan kesadaran adalah dua hal yang saling berhubungan
satu sama lain secara inter-dependensi. Pemikiran di sini bukan hanya yang
bersifat tertulis, tetapi lebih dari itu merupakan sesuatu yang tak tertulis
namun dapat terbaca, bukan hanya hasil-hasil (product) pemikiran, tetapi juga metode-metode
berpikir. Penelaahan pemikiran yang akhirnya menghasilkan
kesimpulan-kesimpulan epistemologis telah dilakukan melalui teori-teori
ilmu-ilmu mutakhir. Oleh karenanya, ia bersifat konseptual. Sementara kesadaran
adalah bersifat aktual, karena adanya kesadaranlah maka kita akan dapat
mengaktualisasi paradigma pemikiran kita, menentukan langkah-langkah strategis
untuk sikap-sikap dan tindakan yang harus diambil.
Dengan demikian, pertama-tama yang harus kita lakukan adalah
membangun komitmen pada kesadaran pemikiran Islam. Kesadaran pemikiran islami,
menurut Muhammad Arkoun, adalah suatu tinjauan historis dan kritis atas jalur
perkembangan kesadaran itu dengan bertolak dari tuntutan-tuntutan dan
pengungkapannya yang paling akhir. Yang dibutuhkan untuk suatu perkembangan
kesadaran pemikiran islami sehingga menjadi kesadaran modern yang sebenarnya,
bukanlah destruksi wacana islami kontemporer yakni penolakan wacana itu
karena dianggap sebagai wacana yang bodoh, salah dan terbelakang melainkan
dekonstruksi sekaligus rekonstruksi. Tinjauan kritis dan historis terhadap
kesadaran islami ini akhirnya harus memungkinkan penciptaan suatu kesadaran
modern dari perspektif teoretis yakni sesuai dengan kesadaran ilmiah mutakhir
dan dari perspektif praktis yakni sesuai dengan kebutuhan praktis masyarakat
Muslim kontemporer.
Pemikiran kritis dapat dibangun dengan
refleksi terhadap wajah masa lampau. Sepotong sejarah modern yang dianggap
penting dalam kemajuan peradaban islam merupakan revolusi islam. Nasir Tamara,
jurnalis asal Indonesia mengumpulkan data-data serta kisah-kisah Iran selama
pembentukannya maupun setelahnya dalam buku Revolusi
Iran (Sinar Harapan, 1980). Kejatuhan Iran berangsur-angsur disebabkan oleh
modernitas, khususnya Westernisasi, campur tangan Inggris dan Amerika terhadap
kebudayaan islam yang sedang berlangsung di Iran saat itu. Raja Shah, yang
waktu itu memimpin sebelum revolusi Iran dimulai pada 1977, dijanjikan (dan
dikabulkan) sejumlah kekayaan jika membiarkan minyak yang dihasilkan oleh Iran
dikelola Inggris. Ketamakan ini lantas mempengaruhi sistem ekonomi, politik,
sosial, dan kebudayaan di Iran pada masanya.
Pertentangan antara Syiah dan Sunni
digembar-gemborkan dan menutup-nutupi kasus penyelewengan hak asasi manusia
yang dilakukan pemerintah Iran. Sejumlah polisi mata-mata (SAVAK) direkrut
untuk menangkap, memerkosa, sampai menyiksa masyarakat Iran yang berani
menentang kepemimpinan Raja Shah pada masa kejayaannya. Hal ini bertentangan
dengan paradigma Al-Quran yang mengedepankan demokrasi serta keadilan terhadap
seluruh umat. Q.S. Al-Imran (2: 159) menyuruh umat Islam untuk bermusyawarah
dalam mengambil keputusan. Dan musyawarah secara jelas bertentangan dengan
kepemimpinan yang fasis, imperialis, dan tertutup. Mengajak masyarakat untuk
ikut bersuara, merupakan salah satu cara menjadikan Al-Quran sebagai paradigma
kehidupan.
Tentu saja, jika seorang pemimpin tidak
mementingkan kehidupan dunia, hampir dapat dipastikan kejatuhan Iran tidak akan
terjadi. Di era modern ini, begitu banyak produk-produk yang menggoda mata.
Menimbulkan hasrat untuk memiliki, mengonsumsi, men-jadi-kan diri bagian dari
kapitalisme modernisasi. Salah satu fenomena yang mencolok yaitu dapat dilihat
dari budaya layar di Indonesia.
Telah disebutkan sebelumnya, Ariel
Heryanto (2014) telah meneliti fenomena perbenturan antara budaya modern dengan
islamisasi di Indonesia. Terutama dengan hadirnya film Ayat-ayat Cinta (2008) dan gelombang Korea atau Hallyu wave. Dalam fenomena ini,
kesadaran menjadi Islam hadir bersamaan dengan kenikmatan munculnya tokoh islam
modern Fahri dalam film Ayat-ayat Cinta.
Masyarakat Indonesia seakan disadarkan bahwa islam tidak menutup diri pada
modernisasi. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya (terutama sebelum adanya
revolusi Iran), dimana pergerakan islam sangat dibatasi oleh pemerintah.
Partai-partai politik islam dibubarkan demi ketentraman negara (Firman Lubis:
2018).
Modernisasi tidak menutup umat Islam untuk
tetap menjaga keislamannya. Dikatakan Ariel, Muslim generasi baru menemukan
cara (sekalipun banyak yang memandangnya sebagai cara yang dangkal) untuk
mendamaikan hal-hl yang secara tradisional dipandang sebagai bertolak belakang.
Yang membuat mereka mampu terlibat dengan agama dan budaya popular secara
bermakna dan sungguh-sungguh. Dapat dilihat dalam acara-acara kebudayaan Korea
atau acara-acara konser artis Korea, begitu pula orang-orang yang
berbondong-bondong menonton film Ayat-ayat
Cinta, tidak bias dibilang sedikit muslim-muslim yang mengenakan kerudung,
menutupi rambut dan segala auratnya. Ketika mereka berteriak menonton acara
para artis Korea, mereka tak melupakan keislaman mereka. Bahkan bias
bersandingan, dan berjalan bersama.
Selain dalam bidang kebudayaan, sosial, politik, paradigma Qurani
juga dapat dijadikan sebagai dasar pendidikan. Paradigma Qurani dapat
diterapkan dalam setiap aspek pendidikan baik informal seperti pada lingkungan
keluarga ataupun lingkungan tempat tinggal maupun pada formal seperti
diterapkan pada satuan pendidikan di sekolah-sekolah maupun di tingkat
perguruan tinggi. Pada pendidikan informal orang tua diharapkan dapat mendidik
serta membimbing anak-anaknya dalam membangun kehidupan dengan menekankan
ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupannya seperti contoh sejak kecil orang
tua mengajarkan cara beribadah kepada anak-anaknya. Sedangkan pada pendidikan
formal siswa atau mahasiswa diarahkan dan dituntut untuk memenuhi standar
kependidikan yang telah dibuat dengan berpedoman pada Al-Quran. Dengan begitu
penanaman paradigma Qurani telah tertanam pada setiap manusia dengan mudah.
Kesimpulan
Jika umat
Islam pada zaman sekarang mempunyai sikap yang sama terhadap Al-Quran
sebagaimana umat pada zaman keemasan bersikap terhadap Al-Quran yakni
menjadikan Al-Quran sebagai paradigma dan akhirnya menjadi hidayah dalam segala
aspek sekaligus sebagai paradigma pemecahan problem kehidupannya. Paradigma
Qurani telah berkontribusi dalam mewujudkan kemajuan dan kemodernan pada zaman
keemasan Islam yang ditandai dengan kemajuan pesat perkembangan IPTEK di dunia
Islam, yang berimplikasi terhadap kemajuan di bidang lainnya; ideologi,
politik, ekonomi, budaya, militer, pendidikan, perdamaian, keamanan,
kesejahteraan dan lainnya. Paradigma Qurani dapat ditanamkan sejak dini melalui
pendidikan dari lingkungan keluarga, sekolah, pergaulan serta perguruan tinggi.
Dengan begitu, paradigma Qurani dapat terbentuk dengan mudah. Setelah itu, umat
Muslim dapat mengendalikan kehidupan modern ini agar tidak terbawa arus budaya
Barat yang sangat berbeda sekali dengan tuntunan Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M. Amin. 1996. Studi
Agama: Normativitas atau Historisitas?.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Azmeh, Aziz. 1993. Islams and Modernities.
London: Verso.
Baez, Fernando. 2014. Penghancuran Buku dari Masa ke Masa.
Tangerang Selatan: Marjin Kiri.
Hasby, M. Subky. 2012. Membangun Paradigma Islam: Membangun Paradigma Islam di
Tengah Perkembangan Masyarakat Global dalam Jurnal Wahana Akademika Kopertais Wilayah X Jawa Tengah di Semarang, Vol
8, No2, Agustus 2006, hal. 351-358.
Heryanto, Ariel. 2014. Identitas
dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia. Jakarta: Kepustakaan
Populer Gramedia.
Lubis, Firman. 2018. Jakarta: 19501970. Jakarta: Masup Jakarta.
Muhaimin.
2004. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya
Pengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Nurwardani,
Paristiyanti. 2016. Pendidikan Agama
Islam untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Ristekdikti.
Tamara, Nasir. 2017. Revolusi Iran.
Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Sagan, Carl. 1980. Cosmos. New York: Random House.
Safrizal dan Ego. 2017. Membangun
Paradigma Qurani. Riau: Universitas Maritim Raja Ali Haji.
Komentar
Posting Komentar