Langsung ke konten utama

Membangun Paradigma Qurani untuk Kehidupan Modern



Ajeng Damara Erfatia (Universitas Negeri Jakarta)
erufathia.ad@gmail.com

Athaya Maharani (Universitas Negeri Jakarta)
Athaya.maharani@yahoo.co.id

Muhammad Julian (Universitas Negeri Jakarta)
m.julian04@yahoo.co.id

Tiana Fitri (Universitas Negeri Jakarta)
tianafitri99@gmail.com

Andy Hadiyanto (Universitas Negeri Jakarta)
andi_hadiyanto@unj.ac.id

Abstract
Al-Qur'an should be used by Moslems as a paradigm in building lives that is in harmony with the guidelines of Islam in this modern era. Lots of Moslems are dragged into the Westernized consumptive lives, and the religion identity comes later only as a lifestyle. Quranic paradigm in the expression of all forms must remain a work of Muslims, so they can not lose their identity in facing the challenges of modernity. Modern life is essentially an implementation of the progress of Science and Technology, and that should be guided and spread by the Qur'an so that a Qurani Society can happen.
Keyword s: Paradigm, Modern life, Qurani


Abstrak
Al-Qur’an dijadikan paradigma bagi umat Muslim untuk membangun kehidupan dengan tuntunan-tuntunan Islam di era modern ini. Banyak umat muslim kini terseret ke dalam kehidupan konsumtif ala Barat, serta menjadikan identitas keislamannya sebagai gaya hidup belaka. Paradigma Qurani menyoroti segala persoalan yang harus menjadi komitmen umat Islam agar tidak kehilangan jati dirinya dalam menghadapi tantangan modernitas ini. Kehidupan modern pada hakikatnya merupakan implementasi kemajuan IPTEK, dan harus dipandu dan diarahkan oleh Al-Quran, sehingga dapat terjadinya kehidupan berbasis Al-Quran. Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang strategi membangun paradigma Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari.
Kata kunci : Paradigma, Kehidupan modern, Qurani

Pendahuluan
            Sains dan teknologi yang telah berkembang dengan sangat pesatnya di dunia Barat saat ini telah menimbulkan berbagai perubahan dan pergeseran yang luar biasa bagi umat manusia dan alam semesta. Bagaimana nenek moyang kita memandang alam semesta. Mitos-mitos dipercaya dan dijadikan tumpuan pengelanaan. Kemajuan ilmu pengetahuan lantas hadir dan membuktikan apa yang mitos dan apa yang tidak (Sagan, 1980).
Kemajuan yang dicapai dengan keberhasilan pengembangan IPTEK tentu akan membawa perubahan yang sangat dahsyat. Revolusi kebudayaan terjadi karena IPTEK telah mengantarkan manusia kepada kemajuan yang luar biasa. Kemajuan melahirkan kehidupan modern dan kemodernan menjadi ciri khas masyarakat maju dewasa ini. Bagi umat Islam kemodernan tetap harus dikembangkan di atas paradigma Al-Quran. Kita maju bersama Al-Quran, tidak ada kemajuan tanpa Al- Quran. Al-Quran bukan hanya sebagai sumber inspirasi, tetapi ia adalah landasan, pedoman paradigma dan guide dalam mengarahkan kemodernan agar dapat menyejahterakan manusia dunia dan akhirat.
            Ilmu pengetahuan dan teknologi mengubah cara pandang manusia hampir di segala bidang. Tidak hanya di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya, tetapi juga telah merambah bidang filsafat dan agama, sehingga mengakibatkan globalisasi yang tidak lagi memperhatikan sentrisme tertentu (Azmeh, 1993). Perubahan yang menciptakan kemajuan, kemakmuran, dan pemerataan ini disebut modernisasi.
            Modernisasi, secara lebih rinci, dijabarkan dengan tolak ukur-tolak ukur sebagai berikut: 1) Tingkat produksi dan pendapatan lebih tinggi. 2) Kemajuan dalam pemerintahan sendiri yang demokratis, mantap, dan sekaligus tanggap terhadap kebutuhan-kebutuhan dan kehendak-kehendak rakyat. 3) Pertumbuhan hubungan sosial yang demokratis, termasuk kebebasan yang luas, kesempatan-kesempatan untuk pengembangan diri, dan penghormatan kepada kepribadian individu. 4) Tidak mudah terkena komunisme dan totalitarianisme lainnya. (Madjid, 2008)
           Modernisasi, dengan segala kemajuannya, ternyata menimbulkan berbagai dampak buruk, terutama bagi masyarakat Muslim yang belum betul-betul siap dengan segala perangkatnya (M. Amin Abdullah, 1996). Termasuk di Indonesia, di mana sebagai negara berkembang, modernisasi kerap dikaitkan dengan westernisasi. Indonesia masih melihat negara-negara Barat sebagai acuan kehidupan modern, bukan negara-negara Timur Tengah, yang umumnya agama Islam dijadikan tumpuan dalam segala aspek kehidupan. Sehingga terjadi kecenderungan umat Islam untuk mudah tergiur dengan paradigma-paradigma modern yang diluncurkan oleh bangsa Barat.
           Salah satunya tercermin lewat budaya layar di Indonesia. Dalam buku Identitas dan Kenikmatan (2014), Ariel Heryanto meneliti gelagat masyarakat Indonesia terhadap budaya layar. Masyarakat Muslim Indonesia pernah dibuat heboh sewaktu film Ayat-ayat Cinta hadir di bioskop, tahun 2008. Lelaki berkemeja dan bercelana panjang bernama Fahri menempuh studi keislaman di Mesir. Ia tak lagi menunjukkan lelaki islam bergaya “fundamentalis” yang berjenggot, bersorban, dan bersarung. Tapi Fahri tetap hadir sebagai lelaki taat agama, yang tak menolak arus modernitas. Film menuai berbagai macam kritik dan kecaman, walau film-film bertemakan Islam mulai terus beredar hingga kini.
           Pemikiran sempit bahwa agama menolak modernitas ini kemungkinan diakibatkan oleh ketiadaan cara pandang umat Muslim lewat pembacaan serta pemaknaan ayat-ayat suci Al-Quran. Karenanya, paradigma Qurani ini merupakan paradigma alternatif bagi umat Muslim yang saat ini mengalami keterbelakangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Paradigma Qurani dalam berangkat dari persepsi bahwa Al-Quran merupakan sumber dari segala sumber kegiatan umat Islam dan manusia pada umumnya, termasuk dalam dunia pendidikan. Karena itu, sudah seharusnya jika semua kegiatan islami didasarkan atas Al-Quran dan hadis, serta ijtihad para ilmuwan Muslim.

Pengertian Paradigma Al-Quran
Secara etimologis kata paradigma dari bahasa Yunani yang asal katanya adalah para dan digma. Para mengandung arti “di samping”, “di sebelah”, dan “keadaan lingkungan”. Digma berarti “sudut pandang”, “teladan”, “arketif dan ideal. Dapat dikatakan bahwa paradigma adalah cara pandang, cara berpikir, cara berpikir tentang suatu realitas. Adapun secara terminologis paradigma adalah cara berpikir berdasarkan pandang dan yang menyeluruh dan konseptual terhadap suatu realitas atau suatu permasalahan dengan menggunakan teori-teori ilmiah yang sudah baku, eksperimen, dan metode keilmuan yang bisa dipercaya. Dengan demikian, paradigma Qurani adalah cara Pandang dan cara berpikir tentang suatu realitas atau suatu permasalahan berdasarkan Al-Quran. (Nurwardani, 2016)
Al-Quran diyakini mengandung suatu gagasan yang sempurna mengenai kehidupan. Ayat-ayat Al-Quran mencakup segalanya yang berhubungan dengan kehidupan manusia, sehingga sudah tentu Al-Quran dapat dijadikan landasan berpikir manusia. Walau gambaran-gambaran Al-Quran tentang surga dan neraka, serta premis-premis normatif kerap dianggap oleh umat non-Islam sebagai sesuatu yang bersifat mengada-ada, tapi justru dari sana Al-Quran memberikan kerangka bagi pertumbuhan ilmu pengetahuan empiris dan rasional yang orisinil (sesuai kebutuhan pragmatis masyarakat Islam). Bahkan sangat mungkin Al-Quran dijadikan cara berpikir. (Kuntowijoyo, 2008)

Pentingnya Paradigma Qurani bagi Kehidupan Modern
Dewasa ini, modernisasi kian marak terutama setelah adanya globalisasi. Suatu masalah yang terjadi di suatu negara akan dengan mudahnya menjadi masalah seluruh warga dunia. Tak ada lagi batasan wilayah. Seiring itu, batasan-batasan lain pun mulai melebur. Ras, bahasa, kepentingan politik melebur dalam interaksi dan menjadi saru. Begitu pula agama. Kini seakan agama dianggap menjadi bagian dari modernitas, atau mengekang modernitas.
Seperti yang dikisahkan Ariel dalam bukunya Identitas dan Kenikmatan, masyarakat menengah adalah sasaran utama modernisasi akibat selera dan daya beli yang sama. Golongan ini digiurkan oleh gaya hidup yang modern, dan jauh dari gambaran-gambaran kehidupan Islam pada umumnya. Ajaran-ajaran Islam yang sekiranya dapat menyesuaikan dengan arus modernitas dianut, sedang yang dianggap ‘kolot’ ditinggalkan.
Film Ayat-ayat Cinta yang mengusung konsep lelaki Muslim taat agama tapi berbudaya modern menjadi tokoh figur baru. Di saat yang bersamaan, kecantikan wanita berhijab juga dijadikan bagian dari gaya hidup. Wanita-wanita membeli berbagai macam jilbab dengan motif beragam untuk mempercantik diri dan enak dipandang, tidak kalah dengan tokoh istri Fahri, Aisyah. Begitu juga dengan poligami sebagai gaya hidup modern. Islam hanya disematkan sebagai identitas agama, bukan lagi pemujaan terhadap Tuhan. Al-Quran tak lagi dipandang sebagai cara berpikir, melainkan hanya sebatas pembenaran perilaku-perilaku bawaan dari arus modernitas ala Barat.
Yusuf Al-Qardhawi mengatakan, paling tidak ada tujuh alasan Al-Quran diturunkan ke bumi. Pertama, meluruskan akidah manusia. Hal ini meliputi penegakkan pokok-pokok tauhid, mensahihkan akidah tentang kenabian dan kerasulan, serta meneguhkan keimanan terhadap akhirat dan keyakinan akan adanya balasan yang akan diterima di akhirat.
Kedua, meneguhkan kemuliaan manusia dan hak-hak asasi manusia. Manusia adalah makhluk mulia. Dalam Q.S. Al-Isra’(17: 30), Allah berfirman,Dan Kami telah memuliakan keturunan Adam dan Kami bawa mereka (untuk menguasai) daratan dan lautan, dan Kami rezekikan kepada mereka yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka atas kebanyakan sebagian yang telah Kami ciptakan. Meneguhkan kemuliaan manusia juga berarti menetapkan hak-hak manusia dan meneguhkan hak-hak dhuafa.
Alasan-alasan lainnya yaitu untuk mengarahkan manusia untuk beribadah secara baik dan benar kepada Allah, mengajak manusia untuk menyucikan rohani, membangun rumah tangga yang sakinah dan menempatkan posisi terhormat bagi perempuan, membangun umat menjadi saksi atas kemanusiaan dan, mengajak manusia agar saling menolong.

Menggali Sumber Historis, Filosofis, Psikologis, Sosiologis, dan Pedagogis tentang Paradigma Qurani untuk Kehidupan Modern
            Dalam sejarah peradaban Islam ada suatu masa yang disebut masa keemasan Islam (750 M—1258 M). Disebut masa keemasan Islam karena umat Islam berada dalam puncak kemajuan dalam berbagai aspek kehidupannya: ideologi, politik, sosial budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, pertahanan dan keamanan. Unifikasi Al-Quran mendorong dinasti Umayyah memperluas kekuasaan mereka antara tahun 661-750 M. Dari ibukota Damaskus, para kalifah menyebarkan ajaran Al-Quran dan mendirikan banyak perpustakaan. (Baez, 2014)
            Kalifah Abbasiyah Al-Mamum (786-833 M), putra Harun Ar-Rasyid, adalah salah satu patron terbesar di bidang seni dan sastra. Ditulisnya, “Menurut beberapa kronik, dia pernah bermimpi ada sosok sepuh dengan janggut rapi mendatanginya dari ambang pintu dan menjelaskan nilai-nilai filsafat.” Al-Mamun kelak menyadari orang bijak itu adalah Aristoteles. Penerjemahan filsafat pun terjadi dan membuktikan bahwa Islam tidak menjauhkan diri dari filsafat. Tokoh-tokoh filsafat seperti Ibnu Sina pun hadir di masa kejayaan Islam.
            Selain bidang sastra dan filsafat, Islam juga berjaya di bidang kedokteran. Rumah sakit pertama di dunia didirikan di Gundeshapur, di Persia tenggara, dengan tokoh terpentingnya yaitu Harith bin Kalada. Di bidang matematika, trigonometri ditemukan oleh Nasir Al-Din Al Tusi, seorang ahli matematika. Pada masa itu juga diterjemahkan karya-karya dalam bidang astronomi, seperti Sidhanta, sebuah risalah India yang diterjemahkan oleh Muhammad Ibn Ibrahim Al-Fazari (806 M).
                Pada abad berikutnya sekitar pertengahan abad ke-10 muncul dua orang penerjemah yang sangat penting dan produktif yaitu Yahya Ibn Adi (974) dan Abu Ali Isa Ibnu Ishaq Ibn Zera (1008 M). Yahya banyak memperbaiki terjemahan dan menulis komentar mengenai karya-karya Aristoteles seperti Categories, Sophist, Poetics, Metaphiysics, dan karya Plato seperti Timaesus dan Laws. Yahya juga dikenal sebagai ahli logika dan menerjemahkan The Prolegomena of Ammocius dan sebuah kata pengantar untuk Isagoge-nya Pophyrius (Bakhtiar, 2004).
            Sikap penguasa yang mendukung kemajuan Iptek selain diwujudkan dengan membangun pusat-pusat pendidikan tinggi dan riset semisal Bait al-Hikmah di Bagdad, juga para khalifah selalu mengapresiasi setiap ilmuwan yang dapat menuliskan karya ilmiahnya, baik terjemahan ataupun karangan sendiri.
            Semarak keilmuan tumbuh di tengah masyarakat. Ini semua tak jauh karena pemikiran yang berdasarkan Al-Quran. Pada zaman itu, sahabat-sahabat Rasulullah menjadikannya sebagai sosok panutan, figur, dan pemimpin. Dan para pengikut umat Islam mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Aisyah r.a. pun pernah mengatakan, “Akhlak Rasulullah adalah Al-Quran.”
            Karena kemajuan-kemajuan itu, maka dunia Islam menjadi pusat peradaban, dan dunia Islam menjadi super-power dalam ekonomi dan politik. Ekspansi dakwah Islam semakin meluas dan diterima oleh belahan seluruh dunia ketika Islam datang. Kekuasaan politik semakin luas yang implikasinya kemakmuran ekonomi juga semakin terbuka tambah subur dan tentu lebih merata.

Membangun Paradigma Qurani pada Kehidupan Modern
Pemikiran dan kesadaran adalah dua hal yang saling berhubungan satu sama lain secara inter-dependensi. Pemikiran di sini bukan hanya yang bersifat tertulis, tetapi lebih dari itu merupakan sesuatu yang tak tertulis namun dapat terbaca, bukan hanya hasil-hasil (product) pemikiran, tetapi juga metode-metode berpikir. Penelaahan “pemikiran” yang akhirnya menghasilkan kesimpulan-kesimpulan epistemologis telah dilakukan melalui teori-teori ilmu-ilmu mutakhir. Oleh karenanya, ia bersifat konseptual. Sementara “kesadaran” adalah bersifat aktual, karena adanya kesadaranlah maka kita akan dapat mengaktualisasi paradigma pemikiran kita, menentukan langkah-langkah strategis untuk sikap-sikap dan tindakan yang harus diambil.
Dengan demikian, pertama-tama yang harus kita lakukan adalah membangun komitmen pada kesadaran pemikiran Islam. Kesadaran pemikiran islami, menurut Muhammad Arkoun, adalah suatu tinjauan historis dan kritis atas jalur perkembangan kesadaran itu dengan bertolak dari tuntutan-tuntutan dan pengungkapannya yang paling akhir. Yang dibutuhkan untuk suatu perkembangan kesadaran pemikiran islami sehingga menjadi kesadaran modern yang sebenarnya, bukanlah “destruksi” wacana islami kontemporer— yakni penolakan wacana itu karena dianggap sebagai wacana yang bodoh, salah dan terbelakang— melainkan “dekonstruksi” sekaligus “rekonstruksi”. Tinjauan kritis dan historis terhadap kesadaran islami ini akhirnya harus memungkinkan penciptaan suatu kesadaran modern dari perspektif teoretis— yakni sesuai dengan kesadaran ilmiah mutakhir— dan dari perspektif praktis —yakni sesuai dengan kebutuhan praktis masyarakat Muslim kontemporer.
Pemikiran kritis dapat dibangun dengan refleksi terhadap wajah masa lampau. Sepotong sejarah modern yang dianggap penting dalam kemajuan peradaban islam merupakan revolusi islam. Nasir Tamara, jurnalis asal Indonesia mengumpulkan data-data serta kisah-kisah Iran selama pembentukannya maupun setelahnya dalam buku Revolusi Iran (Sinar Harapan, 1980). Kejatuhan Iran berangsur-angsur disebabkan oleh modernitas, khususnya Westernisasi, campur tangan Inggris dan Amerika terhadap kebudayaan islam yang sedang berlangsung di Iran saat itu. Raja Shah, yang waktu itu memimpin sebelum revolusi Iran dimulai pada 1977, dijanjikan (dan dikabulkan) sejumlah kekayaan jika membiarkan minyak yang dihasilkan oleh Iran dikelola Inggris. Ketamakan ini lantas mempengaruhi sistem ekonomi, politik, sosial, dan kebudayaan di Iran pada masanya.
Pertentangan antara Syi’ah dan Sunni digembar-gemborkan dan menutup-nutupi kasus penyelewengan hak asasi manusia yang dilakukan pemerintah Iran. Sejumlah polisi mata-mata (SAVAK) direkrut untuk menangkap, memerkosa, sampai menyiksa masyarakat Iran yang berani menentang kepemimpinan Raja Shah pada masa kejayaannya. Hal ini bertentangan dengan paradigma Al-Quran yang mengedepankan demokrasi serta keadilan terhadap seluruh umat. Q.S. Al-Imran (2: 159) menyuruh umat Islam untuk bermusyawarah dalam mengambil keputusan. Dan musyawarah secara jelas bertentangan dengan kepemimpinan yang fasis, imperialis, dan tertutup. Mengajak masyarakat untuk ikut bersuara, merupakan salah satu cara menjadikan Al-Quran sebagai paradigma kehidupan.
Tentu saja, jika seorang pemimpin tidak mementingkan kehidupan dunia, hampir dapat dipastikan kejatuhan Iran tidak akan terjadi. Di era modern ini, begitu banyak produk-produk yang menggoda mata. Menimbulkan hasrat untuk memiliki, mengonsumsi, men-jadi-kan diri bagian dari kapitalisme modernisasi. Salah satu fenomena yang mencolok yaitu dapat dilihat dari budaya layar di Indonesia.
Telah disebutkan sebelumnya, Ariel Heryanto (2014) telah meneliti fenomena perbenturan antara budaya modern dengan islamisasi di Indonesia. Terutama dengan hadirnya film Ayat-ayat Cinta (2008) dan gelombang Korea atau Hallyu wave. Dalam fenomena ini, kesadaran menjadi Islam hadir bersamaan dengan kenikmatan munculnya tokoh islam modern Fahri dalam film Ayat-ayat Cinta. Masyarakat Indonesia seakan disadarkan bahwa islam tidak menutup diri pada modernisasi. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya (terutama sebelum adanya revolusi Iran), dimana pergerakan islam sangat dibatasi oleh pemerintah. Partai-partai politik islam dibubarkan demi “ketentraman negara” (Firman Lubis: 2018).
Modernisasi tidak menutup umat Islam untuk tetap menjaga keislamannya. Dikatakan Ariel, “Muslim generasi baru menemukan cara (sekalipun banyak yang memandangnya sebagai cara yang dangkal) untuk mendamaikan hal-hl yang secara tradisional dipandang sebagai bertolak belakang. Yang membuat mereka mampu terlibat dengan agama dan budaya popular secara bermakna dan sungguh-sungguh.” Dapat dilihat dalam acara-acara kebudayaan Korea atau acara-acara konser artis Korea, begitu pula orang-orang yang berbondong-bondong menonton film Ayat-ayat Cinta, tidak bias dibilang sedikit muslim-muslim yang mengenakan kerudung, menutupi rambut dan segala auratnya. Ketika mereka berteriak menonton acara para artis Korea, mereka tak melupakan keislaman mereka. Bahkan bias bersandingan, dan berjalan bersama.
Selain dalam bidang kebudayaan, sosial, politik, paradigma Qurani juga dapat dijadikan sebagai dasar pendidikan. Paradigma Qurani dapat diterapkan dalam setiap aspek pendidikan baik informal seperti pada lingkungan keluarga ataupun lingkungan tempat tinggal maupun pada formal seperti diterapkan pada satuan pendidikan di sekolah-sekolah maupun di tingkat perguruan tinggi. Pada pendidikan informal orang tua diharapkan dapat mendidik serta membimbing anak-anaknya dalam membangun kehidupan dengan menekankan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupannya seperti contoh sejak kecil orang tua mengajarkan cara beribadah kepada anak-anaknya. Sedangkan pada pendidikan formal siswa atau mahasiswa diarahkan dan dituntut untuk memenuhi standar kependidikan yang telah dibuat dengan berpedoman pada Al-Quran. Dengan begitu penanaman paradigma Qurani telah tertanam pada setiap manusia dengan mudah.

Kesimpulan
            Jika umat Islam pada zaman sekarang mempunyai sikap yang sama terhadap Al-Quran sebagaimana umat pada zaman keemasan bersikap terhadap Al-Quran yakni menjadikan Al-Quran sebagai paradigma dan akhirnya menjadi hidayah dalam segala aspek sekaligus sebagai paradigma pemecahan problem kehidupannya. Paradigma Qurani telah berkontribusi dalam mewujudkan kemajuan dan kemodernan pada zaman keemasan Islam yang ditandai dengan kemajuan pesat perkembangan IPTEK di dunia Islam, yang berimplikasi terhadap kemajuan di bidang lainnya; ideologi, politik, ekonomi, budaya, militer, pendidikan, perdamaian, keamanan, kesejahteraan dan lainnya. Paradigma Qurani dapat ditanamkan sejak dini melalui pendidikan dari lingkungan keluarga, sekolah, pergaulan serta perguruan tinggi. Dengan begitu, paradigma Qurani dapat terbentuk dengan mudah. Setelah itu, umat Muslim dapat mengendalikan kehidupan modern ini agar tidak terbawa arus budaya Barat yang sangat berbeda sekali dengan tuntunan Islam.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M. Amin. 1996. Studi Agama: Normativitas atau Historisitas?. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Azmeh, Aziz. 1993. Islams and Modernities. London: Verso.
Baez, Fernando. 2014. Penghancuran Buku dari Masa ke Masa. Tangerang Selatan: Marjin Kiri.

Hasby, M. Subky. 2012. “Membangun Paradigma Islam: Membangun Paradigma Islam di Tengah Perkembangan Masyarakat Global” dalam  Jurnal Wahana Akademika Kopertais Wilayah X Jawa Tengah di Semarang, Vol 8, No2, Agustus 2006, hal. 351-358.

Heryanto, Ariel. 2014. Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Lubis, Firman. 2018. Jakarta: 1950–1970. Jakarta: Masup Jakarta.
Madjid, Nurcholis. 2008. Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan. Bandung: PT Mizan Pustaka.
Muhaimin. 2004. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Pengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nurwardani, Paristiyanti. 2016. Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Ristekdikti.
Tamara, Nasir. 2017. Revolusi Iran. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Sagan, Carl. 1980. Cosmos. New York: Random House.
Safrizal dan Ego. 2017. Membangun Paradigma Qurani. Riau: Universitas Maritim Raja Ali Haji.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Field Report Briefing dan PKMF 1 MIPA UNJ 2019

Assalamualaikum, saya haydar dari matematika 2017. Pada senin, 25 Maret 2019 berlangsung briefing PKMF MIPA 2019 dimana pembagian kelompok dan saya mendapat hibah di kelompok  . Setelah itu kami pulang, selesai :)))) Pada rabu, 27 Maret 2019 dimulailah PKMF MIPA 1 dengan pembawaan materi dari bang bais tentang urgensi kaderisasi, TUPOKSInya sebagai berikut : Tugas Kaderisasi. - Pembentukan  - Penjagaan        - Pengembangan - Pewarisan        Fungsi Kaderisasi. Pewarisan nilai organisasi. Penjamin keberlangsungan organisasi. Sarana belajar bagi anggota.  Selain itu, Bang Bais juga menjabarkan alur pengkaderan kaderisasi yang di unj mulai dari pengkaderan tingkat prodi hingga univ serta ada sesi tanya jawab yang sangad menarique. Sekalian field report dari saya, tengkyu. SEMOGA DIBACA :)))))) lupa resumenya... Pada suatu hari saya mendapatkan tugas untuk meresume buku yang berjud...

Pra PKMF MIPA 2018 "Pentingnya Seorang Kader"

     Tengah hari selepas dzuhur tepat 12.30(telat dikit) siang pada sabtu 14 april 2018 di GHA207-208 UNJ. Tengah berkumpul segerombol orang mengenakan almamater hijau dengan seragam putih hitam duduk mengantri presensi agar dapat masuk dalam kegiatan PKMF 2018(pelatihan mahasiswa kepemimpinan). 12.35/12.36(saya lupa) presensi baru dibuka, lalu dengan cepat antrean terisi penuh agar acara dapat segera dimulai. Diawali dengan tilawah & Menyanyikan lagu Indonesia Raya, semula pembukaan acara ini berlangsung dengan lancar(walau rada bosen pas pertama -.-+MCnya masih kaku nih keliatan masih gemeteran but semangat terus qaqa MC).      Setelah pembukaan yang membosankan -.-(sedikit), tibalah materi(sebetulnya ini yang lebih membosankan) dari kakak Solin Nurdin tentang Urgensi Kaderisasi. Narasumber juga ngaku kalo materinya emang rada ngebosenin, tapi beliau coba membawakan materi dengan sedikit bumbu-bumbu komedi ( walau kadang garing ). Tapi apa yang in...

PENGEMBANGAN BUDAYA ISLAM MELALUI MASJID DIDALAM UNIVERSITAS

Haydar Miezanie Abdul Jamil Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Jakarta haydarsaja@gmail.com Grace Fajryana Widiasih Muslimah Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Jakarta gfajryana26@gmail.com Mila Rizki Ramadayani Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Jakarta milarizki69@gmail.com Dr. Andy Hadiyanto, M.A Dosen Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta andy_hadiyanto@unj.ac.id ABSTRACTS Dawah of islam already taught since the days of the Prophet and then followed by the companions, later scholars that exist throughout the world. Along with the development of knowledge and technology, many ways to spread the teachings of the religion of islam itself one of them through the mosque in the environment that exists at each University.Islamic propagation is done with the aim of fostering a feeling of l...