Langsung ke konten utama

PENGEMBANGAN BUDAYA ISLAM MELALUI MASJID DIDALAM UNIVERSITAS




Haydar Miezanie Abdul Jamil
Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Jakarta
haydarsaja@gmail.com
Grace Fajryana Widiasih Muslimah
Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Jakarta
gfajryana26@gmail.com
Mila Rizki Ramadayani
Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Jakarta
milarizki69@gmail.com

Dr. Andy Hadiyanto, M.A
Dosen Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta


ABSTRACTS
Dawah of islam already taught since the days of the Prophet and then followed by the companions, later scholars that exist throughout the world. Along with the development of knowledge and technology, many ways to spread the teachings of the religion of islam itself one of them through the mosque in the environment that exists at each University.Islamic propagation is done with the aim of fostering a feeling of love will be islam and Muslims as well as subject to follow the teachings of the great prophet Muhammad S.A.W. Kingin order to obey God.
KeyWords : Penyebaran, Masjid, Perkembangan zaman, Ajaran.
ABSTRAK
Peryebaran  agama islam sudah diajarkan sejak zaman rasulullah lalu dilanjutkan oleh para sahabat, kemudian ulama-ulama yang ada dipenjuru dunia. Seiring berkembangnya pengetahuan dan teknologi, banyak cara untuk menyebarkan ajaran agama islam sendiri salah satunya melalui masjid di lingkungan yang ada pada setiap universitas. Penyebaran islam ini dilakukan dengan tujuan menumbuhkan perasaan cinta akan islam dan kaum muslimin serta tunduk untuk mengikuti ajaran baginda nabi besar Muhammad S.A.W. agar taat kepada ALLAH.
Kata Kunci : Penyebaran, Masjid, Perkembangan zaman, Ajaran.



PENDAHULUAN
            Masjid selain menjadi sarana ibadah pada zaman rasulullah juga menjadi sarana-sarana lain yang berguna pada umat muslim pada masa itu. Masjid sendiri dijadikan sebagai tempat bertemunya kaum muslimin untuk menjalankan kewajiban mereka salah satunya shalat 5 waktu. Selain itu, masjid terkadang mempunyai daya Tarik sendiri bagi para pengunjung untuk menikmati tempat yang penuh dengan suasana religius. Selain mempunyai banyak kegunaan, masjid juga menjadi sumber utama dimana masyarakat menilai seberapa hidup agama islam dalam tempat tersebut. Dimana semakin ramainya suatu masjid, semakin aman, semakin makmur, maka semakin kuat agama yang ada pada tempat tersebut.
            Nilai-nilai agama tersebut didasarkan melalui masjid karena antusias masyarakat dalam mengikuti segala kegiatan baik peribadatan maupun kajian yang ada dalam masjid tersebut. Kegiatan tersebut tentunya membawa dampak positif bagi masyarakat terutama kaum muslimin. Dengan kegiatan tersebut kita dapat menambah kereligiusan yang ada pada diri sendiri, dengan kegiatan tersebut kita dapat tahu segala sesuatu yang belum kita ketahui, dan dengan kegiatan tersebut kita dapat tetap istiqamah berada pada jalan ALLAH. Bahkan, tidak sedikit masyarakat nonmuslim yang terkadang kagum dengan apa yang sudah umat muslim lakukan. Mulai dari adab hingga aturan yang ada.
            Aturan, larangan, dan anjuran yang ada dalam islam bertujuan untuk mempermudah kehidupan baik kehidupan dunia maupun akhirat kelak. Tidak sedikit kaum non-muslim yang terkadang mengikuti umat muslim lakukan karena umat muslim sendiri mempunyai daya Tarik melalui nilai-nilai islam yang ada terutama masjidnya. Karena kekaguman mereka terhadap masjid, maka lebih mudah untuk menyebarkan agama islam terutama melalui masjid-masjid yang ada.
            Oleh karena itu, perlunya pengembangan dan pemakmuran yang lebih merinci untuk setiap masjid-masjid yang ada pada setiap universitas agar menambah daya Tarik tersendiri bagi umat muslim dan non-muslim. Dengan fungsi ini, maka penyebaran agama islam serta pengembangan terhadap kebudayaanya tergolong lebih memiliki fungsi yang signifikan serta kinerja yang kuat.
FUNGSI MASJID KAMPUS DALAM MEMBANGUN KEBUDAYAAN UMAT ISLAM
            Di negeri kita pendirian masjid (kecuali didaerah tertentu) sangat mudah. Jika ada lahan, masjid dapat dengan mudah didirikan. Besar kecil ukuran masjid lebih ditentukan oleh lahan yang tersedia dan kekuatan ekonomi umat muslim disekitarnya(Hadiyanto, 2016:273). Pendirian masjid tersebut juga didasari oleh kapasitas umat muslim yang ada pada daerah tersebut.
            Setelah dilakukan survey terhadap 38 orang atas keperluan masjid yang ada pada setiap universtas maka didapat hasil seperti berikut :
            Berdasarkan gambar 1, kepeluan untuk membuat lebih dari 1 masjid yang ada pada setiap universitas dinilai netral. Hal ini didasarkan pada aspek lokasi serta keramaian pada suatu masjid tersebut. Sedangkan jika ditinjau dari jenis kegiatan serta fungsi masjid maka :
            Berdasarkan gambar 2 kebanyakan masyarakat hanya mengetahui fungsi masjid sebagai tempat ibadah, tentunya ini menurunkan daya Tarik masjid kepada masyarakat yang mempunyai fungsi lebih dari itu. Maka dari itu diperlukan sebuah kegiatan dimana masyarakat dapat mengetahui lebih banyak fungsi masjid yang sebenarnya. Seperti dalam Al-Quran :
“Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan, dan tidak (pula) oleh jual-beli, atau aktivitas apapun dan mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, membayarkan zakat, mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS. An-Nur: 36-37)
Maka, diperlukan sebuah kegiatan dengan tujuan memakmurkan kembali masjid agar masyarakat  lebih mengetahui fungsi masjid tersebut.
MEMBANGUN DIRI TENTANG KONSEPSI MASJID KAMPUS
            Masjid kampus menjadi salah satu sarana sebagai pengembangan kebudayaan umat muslim. Program masjid kampus tersebut harus lebih terarah agar orang-orang mukmin dapat meningkatkan ketakwaan mereka. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran :
Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang- orang yang beruntung.
(QS. Al-Baqarah: 2-5)
            Berdasarkan surat diatas, ciri orang yang bertakwa adalah sebagai berikut.
1.      Selalu beriman kepada Zat Ilahi Yang Al-Ghaib. Maksudnya, selalu mengingat-ingat-Nya atau berzikir kepada-Nya, sesuai perintah Allah dalam QS Al-A`raf/7: 205, Wadzkur rabbaka fī nafsika tadharru’an wa khīfatan wa dūnal jahri minal qauli bil ghuduwwi wal āshāli wa lā takun minal ghāfilīna. Artinya, “Dan ingat-ingatlah Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan (cara mengingat-Nya) dengan tidak mengeraskan suara (melainkan di hati saja), pada waktu pagi dan petang (sepanjang waktu); dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (tidak berzikir)‟.
2.      Selalu mendirikan salat, yakni mengerjakan salat secara khusyuk; yaitu berzikir (ingat) pada saat bersalat (selama salat selalu mengingat Allah), sesuai perintah Allah dalam QS Thaha/20: 14, Wa aqimish shalāta li dzikrī. Artinya, ‟Dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku (Aku=Tuhan),‟ agar terhindari dari salat” sāhun’ yang diancam dengan neraka (QS Al-Ma`un/107: 4-5). Salat yang khusyuk dan sesuai dengan tujuan salat (mengingat Tuhan), maka salat itu mempunyai dampak yaitu dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar (QS Al-Ankabut/29: 45, Innash shalāta tanhā ’anil fakhsyā`i wal munkar. Artinya, „Sesungguhnya salat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar‟).
3.      Selalu membayar infak. Harta kekayaan yang diperoleh dari kerja keras (apalagi dari kerja santai) tidak diakui sebagai miliknya, melainkan milik Tuhan yang dititipkan kepadanya. Dalam QS Al-Baqarah/2: 284, Lillāhi mā fis samāwāti wal ardhi. Artinya, “Milik Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi.‟ Harta benda, bahkan diri kita adalah milik Allah. Oleh karena itu, bagi orang- orang yang bertakwa, memberikan zakat, infak, dan sedekah dan ibadahibadah harta lainnya sangat mudah dilakukan.
4.      Selalu beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad. Implementasi cara mengimani kitab- kitab Allah adalah menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup dan pedoman mati. Al-Quran dijadikan pedoman hidup dalam menjalani shirāthal mustaqīm, juga dijadikan pedoman mati agar ketika kita mati – yang hanya satu kali terjadi – dapat mati dengan selamat (ḫusnul khātimah). Jadi, pada orang-orang yang bertakwa ada tekad untuk menjalankan segala perintah Allah dalam Al-Quran dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk menaati rasul-Nya dan ulil amri yang menjalankan misi rasul-Nya, sesuai perintah Allah dalam QS An-Nisa/4: 59, Athī’ullāha wa athī’ur rasūla wa ulil amri minkum. Artinya,”Taatilah Allah, taatilah rasul, dan (taatilah) ulil amri’ yang menjalankan dan melanjutkan misi rasul. Mungkin yang dimaksud ulil amri dalam ayat ini adalah ulama pewaris nabi, sesuai sabda Nabi Muhammad saw, “Al-’Ulama`u hum waratsatul anbiyā`i. Artinya,”Ulama adalah pewaris nabi‟ (HR Bukhari).
5.      Selalu yakin dengan hari akhir. Kata “yakin” mengisyaratkan telah dipersiapkannya segala bekal untuk menghadapi hari akhir. Orang yang bertakwa itu selalu menyiapkan bekal untuk menghadapi hari akhir berupa:
(a)    keimanan yang benar (karena berdasarkan QS Saba`/34: 51-54 kebanyakan manusia imannya keliru) dan kokoh (karena berdasarkan sabda Nabi Muahmmad, “Al-īmānu yazīdu wa yanqushu.” Artinya, „Keimanan itu bisa bertambah dan bisa berkurang‟; Oleh karena itu, keimanan harus terus ditingkatkan);
(b)    ibadah yang benar dan ikhlas (Imam Ghazali mengingatkan jangan sampai menjalankan ibadah yang palsu) sehingga terbebas dari watak takabbur (sombong), „ujub (bangga diri), riya` (derajatnya ingin diakui orang lain), dan sum’ah (perbuatan-perbuatan baiknya ingin diketahui oleh orang lain). Sabda Nabi Muahmmad, 301 “Takabbur, ‘ujub, riya`, dan sum’ah akan membakar amal bagaikan api yang siap membakar habis kayu kering” (kayu keringnya itu adalah amal-amal saleh);
(c)    Takwa yang benar-benar takwa, yakni mujtahidūna fī `ibādatihii bi shidqin wa ikhlāshin. Artinya, ‟Bersungguh-sungguh dalam ibadahnya dengan benar dan ikhlas;dan
(d)   Menjalankan jihād akbar (berperang untuk menundukkan nafsu dan watak „aku‟) secara terus-menerus agar nafsu dan watak “aku‟nya dapat ditundukkan sehingga mencapai nafsu muthma`innah (karena hanya orang yang sudah mencapai nafsu muthma`innah inilah yang dipanggil Allah untuk masuk ke surga-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Fajr/89: 27-30). Cara menundukkan nafsu dan watak „aku‟ adalah dengan selalu menaati Allah, rasul-Nya, dan ulil amri minkum (QS An-Nisa/4: 59).
MENDESKRIPSIKAN TENTANG KOnSEP MASJID SEBAGAI PEMBANGUN BUDAYA ISLAM
            Ciri ketakwaan yang perlu dikembangkan oleh masjid merujuk kepada QS Al-Baqarah/: 2-4, yakni:
(1)   selalu mengimani Zat Yang Al-Ghaib (yaitu selalu berzikir kepada-Nya, selalu mengingat-ingat-Nya);
(2)   selalu mendirikan salat dengan khusyuk yakni salat yang ada zikirnya (selama salat mengingat Tuhan, tidak mengingat selain Tuhan) agar terhindar dari salat sāhun (lalai, tidak ada zikirnya) sehingga salat yang dilaksanakan berdampak yaitu dapat menghindarkan perbuatan keji dan mungkar;
(3)   selalu meng-infāq- kan harta (milik Tuhan yang dititipkan kepadanya) sehingga dirinya sadar bahwa harta dunia itu hanyalah ujian dari Allah untuk dipergunakan di jalan Tuhan, bukannya untuk besenang-senang memperturutkan nafsu dan syahwat;
(4)   menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup (untuk berjalan di atas shirāthal mustaqīm) dan sebagai pedoman mati, agar ketika mengalami kematian – yang hanya satu kali terjadi – dapat mati dengan selamat (ḫusnul khātimah) dan terhindar dari mati sesat (su`ul khātimah);
(5)   mempersiapkan bekal yang maksimal untuk memasuki hari akhir, sebagaimana bekal yang dipersiapkan oleh para nabi dan para wali kekasih Allah. Bekal yang dimaksud terutama:
(a)    iman yang benar dan kokoh,
(b)   ibadah yang benar, ikhlas, dan sungguh-sungguh, serta bebas dari watak sombong (takabbur), bangga diri („ujub), riya` (derajatnya ingin diakui orang), dan sum’ah (amal-amal baiknya ingin terdengar oleh orang),
(c)    amal saleh yang mencapai tingkat ihsan, dan
(d)   selalu berusaha memerangi nafsu dan watak „aku‟nya (melakukan jihād akbar) sampai nafsu dan watak „aku‟nya benar-benar dikalahkan, yakni dengan selalu menaati Allah, rasul-Nya, dan ulil amri minkum (QS An-Nisa/4:59).
            Seiring dengan perkembangan zaman dan suasana akademik kampus PT, masjid kampus perlu menyusun beragam program kerja. Ciri kecendekiaan masjid kampus harus menonjol, tentunya harus dengan basis ketakwaan. Masjid kampus perlu mengembangkan program pengkajian keagamaan yang fundamental (lebih memprioritaskan kajian dasar-dasar agama) secara kritis, terbuka, luas, mendalam, dan membangun ukhuwah islamiah. Namun, ciri khas masjid harus tetap dipertahankan dan dibina. Salat lima waktu, salat Jumat, dan ibadah-ibadah lainnya harus menjadi ciri masjid. Semangat beribadah perlu diarahkan untuk meningkatkan ketakwaan; dan dihindari – meminjam istilah Imam Ghazali – semangat beribadah yang palsu; yakni perasaan beribadah padahal ibadahnya tidak sejalan dengan kehendak Allah dan rasul-Nya. Akibatnya ibadahnya ditolak oleh Allah.   
KESIMPULAN
            Masjid adalah tempat yang strategis bagi umat muslim untuk melakukan segala kegiatan baik keagamaan maupun diluar dari itu. Masjid juga menjadi tempat yang sangat cocok untuk pengembangan nilai-nilai agama serta kebudayaan islam karena dari masjidlah umat islam dieprsatukan. Pengembangan kebudayaan islam melalui masjid didasari dari akhlak-akhlak untuk membangun kembali rohani masyarakat menuju kepada iman dan taqwa.
            Pengembangan Kebudayaan yang ada harus tetap dilestarikan hingga terciptanya masyarakat yang islami khususnya pada lingkungan kampus melalui masjid kampus. Dengan adanya pengembangan kebudayaan ini diharapkan masyarakat lingkungan kampus dapat menambah aqidah dan akhlak mereka agar beristiqamah dijalan ALLAH.








DAFTAR PUSTAKA
Hadiyanto, Andi, dkk. 2016. Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta :             Direktorat Pembelajaran.
Rahmat, Munawar & Syahidin. 2005. Fungsi Masjid. (Modul). Jakarta:
            Direktorat Urusan Agama Islam Kemenag RI.
-------. 2005. Sejarah Masjid. (Modul). Jakarta: Direktorat Urusan Agama
            Islam Kemanag RI.
Syahidin & Rahmat, Munawar. 2005. Koordinasi Lintas Sektoral Masjid,
            (Modul). Jakarta: Direktorat Urusan Agama Islam Kemenag RI.
-------. 2005. Standarisasi Pengelolaan Masjid. (Modul). Jakarta: Direktorat
            Urusan Agama Islam Kemanag RI.
Syahidin. 2005. Pemberdayaan Umat Berbasis Masjid. Bandung: CV
            Alfabeta

           
           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Field Report Briefing dan PKMF 1 MIPA UNJ 2019

Assalamualaikum, saya haydar dari matematika 2017. Pada senin, 25 Maret 2019 berlangsung briefing PKMF MIPA 2019 dimana pembagian kelompok dan saya mendapat hibah di kelompok  . Setelah itu kami pulang, selesai :)))) Pada rabu, 27 Maret 2019 dimulailah PKMF MIPA 1 dengan pembawaan materi dari bang bais tentang urgensi kaderisasi, TUPOKSInya sebagai berikut : Tugas Kaderisasi. - Pembentukan  - Penjagaan        - Pengembangan - Pewarisan        Fungsi Kaderisasi. Pewarisan nilai organisasi. Penjamin keberlangsungan organisasi. Sarana belajar bagi anggota.  Selain itu, Bang Bais juga menjabarkan alur pengkaderan kaderisasi yang di unj mulai dari pengkaderan tingkat prodi hingga univ serta ada sesi tanya jawab yang sangad menarique. Sekalian field report dari saya, tengkyu. SEMOGA DIBACA :)))))) lupa resumenya... Pada suatu hari saya mendapatkan tugas untuk meresume buku yang berjud...

Pra PKMF MIPA 2018 "Pentingnya Seorang Kader"

     Tengah hari selepas dzuhur tepat 12.30(telat dikit) siang pada sabtu 14 april 2018 di GHA207-208 UNJ. Tengah berkumpul segerombol orang mengenakan almamater hijau dengan seragam putih hitam duduk mengantri presensi agar dapat masuk dalam kegiatan PKMF 2018(pelatihan mahasiswa kepemimpinan). 12.35/12.36(saya lupa) presensi baru dibuka, lalu dengan cepat antrean terisi penuh agar acara dapat segera dimulai. Diawali dengan tilawah & Menyanyikan lagu Indonesia Raya, semula pembukaan acara ini berlangsung dengan lancar(walau rada bosen pas pertama -.-+MCnya masih kaku nih keliatan masih gemeteran but semangat terus qaqa MC).      Setelah pembukaan yang membosankan -.-(sedikit), tibalah materi(sebetulnya ini yang lebih membosankan) dari kakak Solin Nurdin tentang Urgensi Kaderisasi. Narasumber juga ngaku kalo materinya emang rada ngebosenin, tapi beliau coba membawakan materi dengan sedikit bumbu-bumbu komedi ( walau kadang garing ). Tapi apa yang in...